BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Sabtu, 11 Juni 2011

Today You Remember, Tomorrow You'll Forget It (chapter 1)

Cinta, cinta. Mengapa kau datang hanya untuk pergi?

Perempuan itu terbangun dari tidurnya. Dengan tenaga penuh, dicobanya untuk terduduk di ranjangnya. Usia kandungannya yang menginjak usia 3 bulan menjadi mulai menyusahkan setiap gerakannya. Tatapan matanya yang sendu memandang ke arah jendela, seakan mencari apa yang hilang. Irene Destinee, adalah nama dari perempuan itu. Irene mengelus perutnya yang mulai membuncit. Matanya menatap sayang pada apa yang ada di dalam rahimnya. Anaknya. Anak dari suaminya. Jemarinya meraih sebuah figura kecil yang terletak di sebelah ranjangnya.

Kerinduan yang mendalam kembali menerpanya. Foto itu. Foto suaminya tercinta. Foto suaminya terkasih. Ah, Irene tak bisa melepaskan pandangannya dari foto itu. Di foto itu terlihat seorang pemuda memakai tuxedo hitam tengah merangkul pinggang seorang gadis. Pemuda itu bernama Albert Brighton. Irene memejamkan matanya. Masih dapat didengarnya suara hiruk-pikuk itu. Masih dapat didengarnya pekikan gembira di malam itu. Malam pernikahannya dengan Albert. Irene memeluk erat figura itu.

“Hei, Christopher. Tahukah kau bahwa aku bangga sekali pada Ayahmu yang tengah berjuang di medan perang itu?” bisiknya pada sesuatu yang berada di dalam rahimnya.

Irene begitu merindukan kehadiran Albert. Namun, apalah yang dapat dia lakukan dengan profesi suaminya sebagai seorang kapten yang memimpin pertempuran itu? Meski rindu ingin bertemu, ia tak dapat memungkiri bahwa perasaan bangga ikut terselip di dalam hatinya. Irene senang melihat suaminya berjuang demi negaranya. Irene masih ingat janji suami tercintanya saat akan pergi ke medan perang. Lelaki itu berjanji untuk membelikannya cincin berhiaskan batu rubi sebagai tanda kesetiaannya pada perempuan itu. Irene mengelus jari manisnya. Dia sudah tak sabar untuk merasakan lingkaran cincin itu di jari manisnya.

Pernikahan itu. Pernikahan yang diadakan dengan begitu terburu-buru pada malam itu. Karena dua minggu setelahnya, Albert harus pergi meninggalkan Irene. Cincin pernikahan pun tak sempat dibelinya. Untunglah Christopher hadir di tengah keterburuan itu. Christopher bagaikan anugrah dari Tuhan untuk pasangan yang saling mencintai melebihi hidup masing masing, seperti Irene dan Albert. Sungguh Albert merupakan lelaki yang teramat baik. Dia telah memberikan malaikat kecil kepada Irene. Hanya saja, nyawa itu belum ditiupkan untuk malaikat kecil itu. Irene harus menunggu sampai usia kandungannya paling tidak sekitar 4-5 bulan. Irene harus bersabar. Bersabar akan kehadiran Albert. Bersabar akan kehadiran Christopher. Bersabar akan kehadiran suami dan anaknya. Lalu, mengapa dia telah menamakan malaikat kecil itu sebagai Christopher? Apakah dia dewa yang dapat tahu segalanya? Apakah dia hanya menebak bahwa anak pertamanya dan Albert merupakan lelaki? Tidakkah itu terlalu berlebihan untuk menamai si kecil itu terlebih dahulu? Tak bisakah dia menunggu? Bukan. Bukan pertanyaan-pertanyaan yang ingin terlontar. Ini semua amanat dari Albert. Lelaki itu berkeras bahwa anak pertamanya dan Irene adalah lelaki, jadi Irene menamai malaikat tanpa nyawa tersebut sebagai Christopher. Dia hanya percaya saja pada suaminya. Memang seharusnya begitu kan? Percaya, itu kuncinya. Apalagi percaya pada dia yang tercinta. Karena itulah, Irene percaya bahwa anak pertamanya adalah lelaki.

Irene menjejakkan kakinya di lantai. Perlahan ia turun dari ranjangnya. Diseretnya kedua kakinya menuju pintu kamar. Pintu kamarnya terbuka. Dia melangkah menuju wastafel. Diputarnya keran wastafel dan dibasuhnya mukanya yang putih pucat. Irene merasa bahunya ditepuk dari belakang. Perlahan perempuan itu membalikkan badannya. Di depannya, didapatinya adik perempuannya, Elea Destinee.

“Hey, selamat pagi,” sapa Irene pada adik perempuannya.

“Pagi, Kak. Apakah semalam tidurmu nyenyak?” sahut Elea. Gadis itu berusaha menuntun kakaknya ke meja makan.

Irene tersenyum kecil. “Cukup nyenyak.” Di meja makan didapatinya daging asap dan jus wortel. “Oh, Lea? Kau serius membuatkanku daging asap?” Irene setengah tak percaya. Dia akan mual jika memakan daging asap.

“Ah ah! Kau bercanda, Irene! Aku tak mungkin memasak daging asap untukmu! Itu punyaku.” Kemudian gadis itu mengambil piring berisi omelet. “Nah, ini untukmu.”

Irene sedikit tersipu. “Thanks, Lea.”

“Sama-sama, Kak,” balas Elea.

Sejenak Irene memandangi adiknya yang berbeda 10 tahun dengannya. Elea terlihat begitu segar dan manis di usianya yang menginjak 16 tahun. Irene sangat menyayangi Elea sebagaimana gadis itu menyayangi Irene. Elea selalu membuatkan masakan untuk Irene yang tak pandai memasak. Tingkah dan perilaku Elea juga sangat santun. Hal-hal seperti itulah yang membuat Irene tak bisa berhenti menyayangi adik satu-satunya. Yah, meski Elea adalah saudara tiri Irene. Saat umur Irene menginjak usia 14 tahun, ayahnya memutuskan untuk menikahi ibu dari Elea. Ayahnya adalah duda yang telah kehilangan ibunda Irene. Sementara ibu dari Elea baru 3 bulan bercerai dari mantan suaminya. Awalnya Irene tak dapat menerima hal itu. Namun, lagi-lagi dikarenakan tingkah laku Elea yang terkesan santun, hati Irene luluh. Elea pun dapat diterima di keluarga itu. Kemudian gadis itu mengganti marganya menggunakan marga dari ayah Irene.

Banyak sekali perbedaan yang terletak di dalam diri Irene dan Elea. Dari segi fisik pun keduanya jelas berbeda. Irene mempunyai rambut berwarna pirang dan mata berwarna biru lautan. Kulitnya berwarna putih pucat. Sementara Elea mempunyai rambut berwarna cokelat gelap dan mata berwarna hijau zamrud. Kulitnya berwarna putih kemerahan. Irene mempunya pribadi yang kalem, tertutup, dan anggun. Sementara Elea mempunyai pribadi yang ramah, supel, dan lincah. Begitu banyaknya perbedaan di antara keduanya tak lantas membuat hubungan diantara mereka menjadi renggang. Hal itu justru lebih menguatkan hubungan persaudaraan mereka.

“Mengapa kau menatapku? Ada yang aneh?” tegur Elea.

Irene tersadar dari lamunannya. “Eh? Tidak, aku hanya mengagumi kebaikan hatimu,” ujar Irene pelan.

Elea tersipu. Pipinya yang kemerahan menjadi lebih memerah. “Ah, kau terlalu mengada-ada. Aku tak sebaik itu, Kak.”

Irene mencibir. “Ah, kau terlalu merendah, kau tahu. Bagaimana pendapat Ayah jika melihatmu merendah seperti ini? Tentu dia akan protes karena putri bungsunya tidak ingin mengakui kehebatannya.”

“Oke, cukup basa-basinya. Makan saja dan jangan banyak bicara,” sungut Elea dengan pipi semerah tomat. Sudah pasti gadis itu tersanjung akan perkataan kakak tirinya.

Irene tertawa kecil. “Ah, kau. Sama sekali tak berubah. Tetap saja mengomel jika dipuji. Terserah kau sajalah jika tak ingin dipuji. Hey, ngomong-ngomong apa ada kartu pos dari Albert?”

Elea mendongak sesaat. “Albert? Tidak. Setahuku tidak ada. Baru saja aku mengecek kotak pos dan aku sama sekali tidak menemukan kartu pos dari Albert. Memang ada apa?”

Irene menggeleng. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya….rindu padanya. Ya, sangat amat rindu.” Kedua bola mata Irene menerawang dalam angan-angannya akan Albert.

Elea menggenggam jemari Irene. “Aku tahu kau rindu padanya. Sabarlah, Kak. Sebentar saja. Kau hanya harus menunggunya sebentar saja. Dia pasti kembali. Dia pasti akan memenangkan peperangan itu. Percaya padaku.”

Irene menghela nafas dengan berat. “Semoga saja begitu. Aku ingin sekali merasakan keberadaannya. Aku khawatir padanya. Apakah dia cukup tidur di sana? Apakah makanan yang dia makan di sana mengandung gizi yang cukup? Apakah………..”

Elea meletakkan telunjuknya di bibir Irene. “Hey, jangan paranoid begitu. Percaya padaku. Dia pasti akan baik-baik saja. Berhenti bertingkah seperti nenek-nenek cerewet yang suka mengeluh dan cepat khawatir.”

Irene menunduk dalam. “Kau tak mengerti, Lea. Dia seorang tentara, bukan pekerja kantoran. Dia berada di medan perang, bukan di kantor yang nyaman dan ber-AC. Wajar jika aku khawatir padanya. Bagaimana jika dia gugur di medan perang?”

“Aku tahu, aku tahu. Aku mengerti, Irene. Tapi kau jangan terus berpikiran negative seperti ini. Jangan berpikiran yang aneh-aneh. Albert pun tentu tak mau jika istri tercintanya yang tengah mengandung anaknya, dipenuhi pikiran seperti ini. Ingat, Irene kau sedang hamil. Ibu hamil tak boleh banyak pikiran. Jadi, berhenti berpikir yang aneh-aneh. Oke?” Elea berusaha menasihati kakak tirinya.

Irene mengangguk ragu. “Ya, aku mengerti, gumamnya tak jelas.

Elela menepuk bahu Irene. “Baiklah. Sekarang lanjutkan kegiatan makanmu. Setelah ini kita harus berbelanja bulanan.”

Irene menyendokkan omelet ke mulutnya. Dia mengunyah dan berusaha menelan sarapannya. Namun, entah mengapa makanan itu susah ditelannya. Kerongkongannya tercekat, seperti ada yang mencekik. Dengan putus asa, diteguknya jus wortelnya. Tiba-tiba terdengar bunyi bel pintu. Elea segera bangkit dari tempatnya.

“Biar aku saja yang membukakan pintunya,” ujar Elea.

Elea bergegas berjalan kea rah pintu depan. Dibukanya pintu itu. Di teras terlihat dua orang tentara tengah berdiri tepat di depan Elea.

“Maaf, ada apa ya?” Tanya Elea dengan agak sedikit bingung.

“Anda saudari Irene? Istri dari saudara Albert?” salah satu dari tentara itu balik bertanya.

“Oh, aku bukan Irene. Aku Elea, adik ipar Albert. Ada apa?” Mendadak Elea merasa gelisah.

“Kami hanya ingin menyampaikan bahwa saudara Albert gugur di medan perang. Kami akan mengirimkan jenazahnya besok.”

“Aaa…aaa….” Mendadak Elea seperti kehilangan kata-kata. Kerongkongannya tercekat. Nafasnya mendadak sesak. Sementara kedua tentara itu hanya memandang Elea dengan tatapan prihatin.

“Ada apa, Lea? Siapa yang datang?” Terdengar seruan Irene dari dalam rumah.

Karena tidak ada jawaban juga dari Elea, Irene memutuskan untuk keluar rumah. Di depan pintu didapatinya saudara tirinya tengah menangis dan dua tentara tengah berusaha menenangkan saudara tirinya itu. “Ada apa?” Irene mengulang pertanyaannya.

“Anda Mrs. Brighton? Saya perlu berbicara dengan Mrs. Brighton,” ujar salah satu dari tentara itu.

“Brighton itu nama belakang suami saya, Albert Brighton. Ya, saya Mrs. Brighton. Ada perlu apa?” Tanya Irene dengan perasaan tidak enak.

“Kami ingin mengabari bahwa suami Anda, Albert Brighton telah gugur dalam pertempuran. Jenazahnya akan kami kirimkan besok,” terang tentara itu.

Irene tersentak. Kedua bola matanya mulai memanas. Bulir-bulir air mata mulai mengalir dari kedua bola matanya yang indah. “Kau bercanda. Bilang padaku bahwa kalian hanya bercanda!” teriaknya dengan suara serak. Dan kemudian semuanya gelap.

Irene membuka kedua bola matanya perlahan. Didapatinya Albert tengah mengelus helaian rambutnya. Dikecupnya kening Irene dengan mesra. “Hey, sayang,” bisik Albert dengan penuh keromantisan.

Irene memandang Albert dengan bingung. “Albert? Kau masih hidup? Kau tidak mati kan? Kau masih hidup kan?”

Albert tersenyum kecil. Digenggamnya jemari Irene. “Tidak, sayang. Tuhan telah mengambilku. Kau harus berjuang sendiri…….” Kemudian tubuh Albert terlihat semakin menipis, bahkan cahaya dapat menembus tubuh itu.

“Albert?! Albert?! Tidak, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Bagaimana dengan Christopher? Albert! ALBEEEERRRTTTT…….!!!”

Jemari Irene mencakar udara. Irene mendengar sayup-sayup suara orang memanggil namanya. Irene terbangun dari tidurnya. Lebih tepatnya, tidur yang dikarenakan pingsan.

“Elea? Dimana Albert? Tadi aku melihatnya,” tanya Irene dengan muka nanar. Pertanyaannya terdengar begitu menuntut jawaban.

Yang didapati Irene hanyalah isakan Elea. Adik tirinya itu menangis sesenggukkan.

“Elea?! Jawab aku, Lea! Dimana Albert?! Aku rindu padanya! Pertemukan aku dengan dia! Kumohon Lea!” jerit Irene histeris seraya mencekal lengan baju Elea.

Elea menepis kedua tangan Irene secara perlahan. “Sudahlah, Kak. Jangan lagi kau harapkan kehadirannya. Albert telah tiada. Terimalah takdir Tuhan ini. Ikhlaskanlah dia.” Elea tak berani memandang Irene. Suaranya terdengar bergetar menahan tangis.

“Kau bohong, Elea! Kau bohong! Albert masih hidup!” bentak Irene dengan emosi. Didorongnya bahu Elea dengan kesal.

Hampir saja Elea terjengkang dari kursinya. Gadis itu berusaha menjaga keseimbangannya. Ditatapnya kakak tirinya dengan penuh keputus-asaan. Gadis itu tak tahu apa yang harus dia lakukan untuk mengobati rasa sakit hati kakaknya. Gadis itu tak tahu apa yang harus dia cari untuk membalut luka menganga di hati kakak tirinya. Elea kembali menatap Irene dengan frustasi. Dengan sabar, dicobanya untuk menjelaskan lagi segalanya pada Irene. “Irene, Albert sudah meninggal. Dia gugur di medan perang. Bukankah kedua tentara itu sudah memberi tahumu? Biarkanlah dia pergi menghadap Tuhannya. Biarlah dia bahagia di surga. Relakanlah dia, Irene.”

Irene melemparkan bantalnya dengan buas. Wanita itu sudah tak terkontrol lagi. “Jangan pernah kau bilang bahwa Albert telah tiada! Dia masih hidup! Jaga bicaramu, perempuan jalang!” Irene sama sekali tak sadar bahwa dia telah mengatai adik yang dicintainya itu.

Elea membelalak. Matanya menatap Irene dengan perasaan terluka. “Aku….aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan untuk menyadarkanmu, Irene. Bertindaklah sesukamu.”

“Kau pikir dengan bertindak sesukaku maka itu akan mengembalikan Albert ke dunia ini?” gumam Irene pelan. Air mata Irene tumpah. Sepertinya dia mulai menyadari bahwa suaminya benar-benar sudah meninggal.

Elea kontan memeluk kakak tiri yang sangat dicintainya itu. “Dengar, Kak. Apa pun yang terjadi aku akan selalu ada untuk kamu. Aku menyayangimu lebih dari apa pun juga sekalipun itu hidupku, dan kau tahu itu. Jadi, jangan sungkan untuk membagi kesedihanmu denganku. Oke?”

Irene menangis histeris dalam pelukan Elea. “Lea, aku sangat mencintainya. Mengapa Tuhan mengambilnya begitu cepat? Mengapa Tuhan tak memberiku sedikit waktu untuk memperkenalkan anakku dengannya? Mengapa aku harus bertemu dengannya jika akhirnya dia akan meninggalkanku secepat ini?”

“Sssttt…jangan pernah berkata begitu. Setiap perjumpaan pasti ada perpisahan. Setiap perkenalan pasti terdapat ucapan selamat tinggal. Setiap anak perempuan telah berjodoh dengan pangerannya. Garis takdir telah menentukan hal itu. Mungkin jodohmu bukanlah Albert. Mungkin kalian saling mencintai tapi mungkin jauh di sana ada orang lain yang juga mencintaimu dan Tuhan lebih menyetujui kau dengan orang itu. Tuhan pasti punya alas an khusus dibalik semua ini. Percaya padaku, Tuhan akan memberikan yang terbaik untukmu. Mungkin saja ini jalan terbaik untukmu. Meski Albert telah tiada namun dia akan selalu hidup di hatimu. Dengan nyawa yang ditiupkan Tuhan pada Christopher, maka hari-harimu akan diisi oleh Albert kecil. Bukankah dia telah menitipkan sesuatu yang berharga padamu? Tidakkah Christopher begitu berharga bagimu?”

Tangisan Irene semakin meledak-ledak. “Tentu saja Christopher sangat berharga bagiku! Hanya dialah satu-satunya kenangan yang tersisa dari Albert.”

“Nah, kan? Kau harus menjaganya dengan baik, Irene. Kau harus menjaga malaikat kecil itu. Dalam jiwanya terdapat jiwa seorang Albert Brighton.” Elea masih saja mendekap kakak tirinya dengan penuh rasa iba.

“Aku janji akan selalu menjaganya apa pun yang terjadi. Dia milikku dan milik Albert. Dia anakku dan anak Albert. Dia cerminan dari ayah kandungnya. Dia anugerah dari ayah kandungnya. Dia segalanya bagiku. Aku sangat mencintainya sebesar rasa cintaku pada ayah kandungnya.” Tangis Irene mulai mereda.

Elea melepaskan pelukannya. Dibelainya rambut kakak tirinya dengan penuh rasa sayang. “Istirahatlah, Kak. Kau butuh istirahat untuk acara pemakaman Albert besok.”

“Ya, aku akan istirahat. Mmm….Elea?”

“Ya? Ada apa?” Elea menyahut.

“Bisakah kau menemaniku sebentar saja? Aku ingin kau menemaniku sampai aku tertidur,” pinta Irene.

Elea tersenyum miris. “Jangankan menemanimu, mati menggantikan Albert demi kau pun aku rela,” gumamnya pelan.

“Kau mengatakan sesuatu, Lea?” tanya Irene dengan lemah.

“Ah! Ngg…..tidak. Ayo, tidurlah Irene. Aku akan menemanimu!” ucap Elea.

Irene mematut dirinya di depan cermin. Dress serba hitamnya terlihat begitu suram melekat pada tubuhnya. Hari ini hari pemakaman Albert Brighton. Ah, Irene sama sekali tak ingin pergi ke pemakaman itu. Bagaimana mungkin dia tega melihat suaminya dikuburkan di tanah lembab yang berisi banyak hewan menjijikkan? Irene menghapus setitik air matanya yang turun di pipinya yang tirus. Wanita itu segera mengambil seikat mawar merah dan pergi meninggalkan kamarnya. Irene masuk ke dalam mobil BMW hitam yang disetiri oleh Elea. Mobil itu melaju menuju tempat pemakaman Albert.

Irene memandang batu nisan di kuburan itu dengan tatapan kosong. Hatinya tetap tak percaya bahwa dia Albert yang begitu dicintainya kini telah tiada. Diletakkannya setangkai mawar merah di sebelah nisan itu. Irene memejamkan matanya sembari jemarinya mengelus nisan yang terasa dingin di kulitnya. Ah, Albert. Mengapa kau pergi begitu cepat?

Cinta oh cinta

Kau datang ke sini, kau rasuki hidupku yang hampa

Cinta oh cinta

Wujudmu adalah dia yang telah menggenggam jemariku

Dia yang telah membelai helaian rambutku

Dia yang telah mengecup keningku dengan mesra

Dia yang telah membangkitkan binar di mataku

Namun, mengapa kau datang hanya untuk mengucapkan sebuah salam perpisahan?

0 comments: