BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS �

Rabu, 29 Mei 2013

Hello Accounting!

Hey bloggie! Baru sempet ngepost lagi nih hehe:p btw, i wanna tell u something. wait yah...








Yup! Finally! THANK GOD, AKUNTANSI UI 2013!!! :''''')

My dream came true. Bye science, i won't miss you. Hello accounting!:*

Kamis, 11 April 2013

Matisse Ft. Akon - Better Than Her

Matisse
(What up, girl?)
I can do it better than her
I can do it better than her
I can do it better than her
I'll do it better than her
I'll do it better than her
I'll do it better than her

Hey, Akon
I'm looking at you, I'm looking at my girl
And it's making me wanna go and question
What I'mma do with you in my world

When I just replace you with that blessing
Need you to show me that weapon
Otherwise I can just keep on steppin, girl

You hear there was a party
Tonight and I'd be here
I just saw you lookin' at me
Even though she's here
Everytime I turn around
You seem to be worried about me
(Is dat right?)
What about me?
(Is dat right, girl?)

I can settle down for the things you like
I'm a girl who can take the lead
But I'm still the fall back type
Give you the space you need
Even though I can't explain
How I do the damn thang
I would put it on my life, that I

I'll do it better than her
I'll do it better than her
I'll do it better than her
I can do it better than her
I'll do it better than her
I'll do it better than her
I'll do it better than her
I can do it better than her
I can do it better than
Hey, hey, hey
If you can do it better
Say hey, hey, hey
Everyone together now
Hey, hey, hey
If you can do it better say
Hey, hey, hey
(Bring it down)

You showed up to the party
For all the wrong reasons
She said if you look over again
That she's leavin'
I don't really feel so bad
Cause I know you better without her
(Is dat right?)
What about her?
(Is dat right, girl?)

You settle down for the things you like
I'm a girl who can take the lead
But I'm still the fall back type
I'll give you what you need
And even though I can't explain
How I do the damn thang
I can show you tonight

I'll do it better than her
I'll do it better than her
I'll do it better than her
I can do it better than her
I'll do it better than her
I'll do it better than her
I'll do it better than her
I can do it better than her
I can do it better than
Hey, hey, hey
If you can do it better
Say hey, hey, hey
Everyone together now
Hey, hey, hey
If you can do it better say
Hey, hey, hey

You made my eyes see a miracle, miracle
Now I got to decide to do the right thing
Like I was Spike Lee
Tell me would you allow her
To break you off
Break you off

Shake it on me
Shake it on me
Shake it on me
Go ahead
And break it on me
Girl, just make a statement on me

Shake it on me
Shake it on me
Shake it on me
Go ahead
Now break it on me
Girl, just make a statement on me

Hey, hey, hey
If you can do it better
Say hey, hey, hey
Everyone together now
Hey, hey, hey
If you can do it better say
Hey, hey, hey

I'm still better than her
I'm still better than her
(So you can do it better, girl)
I'm still better than her
I'm still better than her
(So you can do it better, girl)
I'm still better than her
I'm still better than her
(So you can do it better, girl)
I'm still better than her
I'm still better than her
(You can do it better, girl)
I'm still better than her
I'm still better than her
I'm still better than her
I'm still better than her
I'm still better than her
I'm still better than her
(You can do it, better!)



PS : I deleted some lyrics cause those lyrics don't tell abt my love story. For you who's out there and maybe now you're reading my blog, do u still remember abt that time? When u became my secret admirer and i became ur secret admirer. But u already had a girlfie and i already has a boyfie. So we just looked each other and smiled. Do u still remember abt that chat? Do u still remember when u just waited for me in front of my classroom? Well, i still remember those moments and i miss them. But thank God in the end, u're mine now and i'm urs:)

Hanya Karangan Bodoh (Another Chapter)

Evan memacu motornya. Eithan memeluk pinggang kekasihnya itu. Eithan baru saja pulang dari rumah Evan. Eithan mengunjungi rumah Evan untuk sekedar berbicara dengan Ibunda Evan yang memang sudah dekat dengannya. Setelah sampai di tempat tujuan, Evan menghentikan laju motornya. Eithan turun dari motor Evan dan tersenyum pada Evan.

"Terima kasih," ujarnya sambil tersenyum manis.

Evan menatap Eithan. Tatapannya dipenuhi perasaan sayang. Dipeluknya Eithan dan diciumnya kening kekasihnya itu. "Jangan tinggalkan aku lagi," ujarnya parau seperti ingin menangis.

"Kau juga. Jangan mendiamkan aku seperti itu lagi," sahut Eithan.

"Maafkan aku, Eith. Aku mencintaimu. Kau itu gadis paling sempurna untukku. Kau tidak munafik, dan kau tidak pernah malu untuk menunjukkan kekuranganmu," kata Evan.

"Aku hanya ingin kau menerimaku apa adanya......" balas Eithan pelan.

"Ya, aku tahu. Aku bahagia bisa bersamamu. Kau......." Evan tak meneruskan kalimatnya.

"Aku apa?" tanya Eithan.

"Kau buruk rupa," canda Evan sambil mengacak-acak rambut Eithan.

"Oh begitu," ujar Eithan datar. "Yah, aku akui aku memang buruk rupa. Aku tak secantik mereka, mantan pacarmu."

Evan tersenyum. "Hei, aku hanya bercanda. Kau jauh lebih cantik dari mereka."

"Benarkah?" Eithan menatap kedua bola mata Evan berusaha mencari tahu kebohongan Evan, namun kedua bola mata itu membuktikan bahwa Evan berkata jujur.

"Kau tahu, aku benci berkata gombal dan aku benci berbohong. Aku juga benci merayu. Jadi yang kukatakan adalah jujur. Kau cantik, hatimu juga tak kalah cantik. Itulah sebabnya aku selalu mengatakan bahwa gadis sepertimu sangatlah jarang. Aku senang karena kau selalu bisa mengerti tentangku," terang Evan.

Kedua pipi Eithan bersemu merah. Ia membenamkan wajahnya di dada Evan. "Kau terlalu berlebihan," gumamnya.

"Aku tidak berlebihan. Aku hanya berkata jujur.Tetaplah seperti ini, jangan berubah. Tetaplah menjadi milikku. Sekarang dan selamanya," pinta Evan.

"Kau ingin aku menjadi pendamping hidupmu?" tanya Eithan.

"Ya. Itulah alasan mengapa aku selalu menjagamu dan mengapa aku tak sanggup untuk mendiamkanmu lebih dari sehari. Aku tak bisa tanpamu. Aku serius menjalani hubungan ini denganmu. Hanya denganmu. Aku sudah yakin bahwa kau adalah jodohku sejak pertemuan pertama kita," ujar Evan dengan jujur.

"Benarkah?" Eithan masih bimbang.

"Jika aku tak serius denganmu, aku tak mungkin terus mengejarmu. Dan hubungan kita tak mungkin selanggeng ini," kata Evan.
 
"Aku pun begitu. Aku menyayangimu. Kemarin, hari ini, dan selamanya," balas Eithan lembut.


"Truly loving someone or something can and should require us to sacrifice some of the things that we want, so that we may place in the best positions the things and the people that we love," - Ritu Ghatourey.

Selasa, 02 April 2013

Hanya Karangan Bodoh (Another Chapter)

Bulir bulir air mata mengalir dari kedua bola matanya yang indah. Ternyata, kebahagiaan itu hanya bersifat sementara. Hal yang bodoh jika ia terus berharap pada sesuatu yang tak pasti, yang kian menggerogoti hatinya dan menyakiti batinnya. Mengapa selalu saja pemuda itu menjatuhkan segala hal yang susah payah dibangun? Sesulit itukah untuk mengerti? Mengapa selalu saja terjadi kesalah pahaman dalam topik pembicaraan mereka?
Hari ini Evan marah padanya. Ya, kemarahan karena pertengkaran yang sepele. Menyebalkan jika topik obrolan sudah beralih pada obrolan tentang masa depan. Menyebalkan, karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Eithan mengerti bahwa Evan ingin bersamanya, ingin berada di satu kampus yang sama dengannya. Namun, Eithan sudah memiliki pilihan sendiri. Ia ingin sekali memasuki universitas negeri itu. Ia ingin melihat binar bangga di mata kedua orangtuanya. Bukannya ia tak mau untuk kuliah di universitas swasta bersama Evan, ia hanya ingin cita-citanya selama ini tercapai. Ia ingin sungguh-sungguh dalam menghadapi kuliahnya. Ia tak ingin lagi dilecehkan orang-orang sekitarnya yang tak tahu sama sekali cerita tentang hidupnya.
Mengapa sulit sekali membuat Evan untuk mengerti akan hal itu? Apakah Eithan pernah marah dan meninggalkannya ketika pemuda itu tak berhasil memasuki universitas negeri? Eithan mengerti bahwa Evan khawatir jika Eithan akan tergila-gila pada pemuda lain di kampusnya. Tapi hal itu sama sekali tidak mungkin terjadi. Apakah Evan telah lupa segala hal yang dia lalui bersama Eithan? Eithan masih tetap di sini dan bertekad untuk menjaga hatinya hanya untuk Evan. Eithan hanya ingin Evan tahu bahwa jarak tak mempengaruhi rasa sayangnya terhadap Evan.
Cobaan-cobaan yang hadir dalam hubungan mereka berdua bukanlah hal yang mudah, namun Eithan tetap percaya bahwa dirinya dan Evan pasti bisa melalui hal tersebut. Kini, Eithan ingin Evan pun percaya. Percaya pada dirinya. Percaya pada ketulusan cintanya. Percaya pada hubungan mereka berdua. Karena sesungguhnya cinta sama sekali tak mengenal kata ragu.


"Every friendship, every relationship, is bound to fall apart when you start keeping things to yourself. Secrets don't destroy things...but suspicion does.." - Anonymous.

Jumat, 29 Maret 2013

Hanya Karangan Bodoh (Another Chapter)


“Aku perlu bersyukur pada Tuhan,” ucap Eithan dalam hati. 

Malam ini Evan menghubungi Eitan dari ponselnya. Evan tengah berada di kampung halaman Eithan. Pemuda itu mengikuti touring bersama club motornya. Dikarenakan rasa rindu yang menyelimuti hati, Evan menelepon Eithan. Malam ini Evan tidak membuat Eithan terjatuh lagi. Malam ini Evan berhasil meyakinkan Eithan bahwa pemuda itu benar-benar menyayangi Eithan. 

“Aku menyayangimu,” ungkap Evan pada Eithan
.
“Bagaimana dengan mantan kekasihmu? Tentu kau pernah menyayanginya bukan? Bagaimana dengan Selina?” tanya Eithan. Selina adalah mantan kekasih Evan yang terakhir. Gadis itu pernah berseteru dengan Eithan karena dia tak dapat menerima kenyataan bahwa Evan sangat menyayangi Eithan.

“Oh, kurasa kau perlu tahu akan masa laluku dengan Selina. Jujur saja, aku terpaksa menjadi kekasihnya. Aku tak enak pada temanku yang saat itu mendukungku untuk menjadi kekasihnya. Aku sama sekali tak pernah menyayanginya. Kurasa aku agak muak dengannya. Dia merasa dirinya begitu cantik padahal kenyataannya berkebalikan,” ujar Evan.

“Dan apakah saat kau dekat dengannya kau tahu bahwa dia suka padamu?” tanya Eithan.

“Ya, aku tahu. Tapi aku tak peduli. Bukankah sudah kubilang bahwa hanya dirimu yang ada dalam memoriku sejak bulan Juli tahun 2010? Aku selalu memperhatikanmu, Eithan. Meski aku tak berani mengungkapkannya karena merasa tak pantas untukmu,” terang Evan.

“Jadi, kau tidak terpaksa menjadi kekasihku?” 

“Tentu saja tidak. Bahkan seandainya jika kau suruh aku untuk melupakanmu, aku tak akan bisa. Kau bagai narkotika untukku. Aku tak bisa jika tanpa kamu.”

“Tapi kau selalu saja membuatku sedih.”

“Aku tahu. Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu. Maaf jika aku kekanak-kanakan,” ungkap Evan.

“Maafkan aku juga jika aku egois dan terlalu mengekangmu,” balas Eithan.

“Kau tahu, Eith? Kau itu cantik. Tidak hanya dari parasmu, namun dari hatimu. Kau tetap ada disisiku seraya menggenggam jemariku di saat aku telah menjadi yang terburuk. Mereka tidak akan mungkin melakukan apa yang kau lakukan. Kebaikan dan kecantikanmu mengalahkan mereka yang pernah dekat denganku. Itulah alasan mengapa aku selalu terpaku padamu. Dan aku tidak bohong, kau tahu itu,” kata Evan.

Eithan tahu benar bahwa Evan berkata jujur. Pemuda itu tidak pernah membohonginya. Selalu saja jika ada yang membuat Eithan ragu tentang Evan, gadis itu pasti mencari tahu kebenarannya dan pada akhirnya dia tahu bahwa Evan tidak pernah membohonginya. Eithan mengerti, dirinyalah yang dipilih oleh Evan sejak awal. Dirinyalah yang selalu ada dalam pikiran dan relung hati Evan. Sungguh Evan sangat menyayanginya. Malam ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah kisah cintanya bersama Evan, Eithan merasa begitu bahagia. 

“Terima kasih, Tuhan,” ungkap Eithan dalam hati.

Selasa, 12 Maret 2013

Hanya Karangan Bodoh (Another Chapter)

"Putus saja."

Eithan terbangun dari tidurnya. Lagi-lagi mimpi itu. Kejadian beberapa bulan yang lalu. Kejadian buruk yang menimpanya. Kejadian yang susah dihapus dari ingatannya. Saat ia pertama kalinya mengenal Kimmy. Saat ia terlibat dalam pertengkaran mulut dengan gadis itu. Saat Evan memutuskan hubungan. Hmm.
Eithan menyeka peluh di dahinya. Matanya mulai berair. Kejadian itu sudah lama sekali, namun entah mengapa hal itu masih membayangi hatinya. Saat ini Evan masih miliknya. Jika saat itu Eithan tak meminta maaf pada Evan dan Kimmy, entah apa yang akan terjadi. Mungkin Eithan tak akan dapat melihat wajah Evan yang sangat disayanginya itu. Kejadian itu yang kian hari membuat Eithan ragu akan perasaan Evan. Eithan mencoba untuk tidak menangis dan dia berhasil. Apakah hatinya sekeras batu? Mungkin. Apakah ia telah terbiasa? Tentu saja. 
Eithan tak ingin menyimpan dendam, apalagi benci. Eithan tak ingin bersikap konyol. Kimmy bukanlah gadis yang pantas dibenci. Kimmy begitu baik padanya. Begitu pula halnya dengan Evan. Meskipun pemuda itu sedikit kekanak-kanakan, namun Evan sangat menyayangi Eithan. Namun, tetap saja Eithan merasa tidak tenang. Masa lalu Evan dan Kimmy tentu bukan urusannya. Mengapa dia mau mengambil pusing? Mengapa dia begitu bodoh dan pikirannya begitu picik? 
Rasanya Eithan ingin menghilang dari dunia ini. Ingin sejenak menenangkan perasaannya. Ingin pergi ke masa depan dan menemukan alat yang dapat menghapus ingatan. Hm? Pikiran bodoh. Eithan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasurnya. Ia harus mengucapkan selamat pagi pada Evan seperti biasa. Ia tak boleh bersikap ketus pada Evan hanya karena bermimpi buruk. Tidak boleh.
Eithan menyayangi Evan. Sangat sayang sampai menjadi bodoh seperti ini. Sangat sayang hingga mengabaikan sekelilingnya. Sangat sayang hingga ingin menghapus memorinya? Ya, seandainya saja ia bisa.


“People have an annoying habit of remembering things they shouldn't.”
― Christopher Paolini, Eragon

Jumat, 01 Maret 2013

Hanya Karangan Bodoh

       Eithan masih terpaku menatap dinding kamarnya yang terbuat dari keramik. Perasaannya begitu berkecamuk hari ini. Lagi-lagi tanggal yang sama. Seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu sial di tanggal dan bulan ini. Gadis itu melirik handphone-nya dengan tampang kusut. Matanya sembab habis menangis. Kesal rasanya. Lagi-lagi dirinya harus bertengkar dengan Evan. Dan lagi-lagi penyebabnya adalah hal yang sepele. Selama 40 menit, Evan mengesampingkan Eithan karena game. Memang Eithan agak tak suka, namun gadis itu tidak marah. Tetapi, entah kenapa Evan justru marah padanya. Dan saat Eithan balas membentak, Evan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Bersikap seperti pacar yang sedang baik-baik saja dengan pasangannya. Oh, betapa Eithan membenci sikap Evan yang seperti itu. Eithan selalu berpikir adalah hal yang konyol jika seseorang begitu mendewakan game sehingga mengabaikan sekelilingnya. Eithan bukannya marah, dia hanya merasa tidak diperhatikan. Dan sekarang, Eithan tidak ingin bertengkar. Ia hanya ingin Evan minta maaf dan setelah itu masalah mereka selesai. Namun, Evan tak juga melakukannya. Bagi Eithan, adalah hal yang mustahil mengharapkan permintaan maaf dari Evan. Pemuda itu jarang mengucap kata "maaf." Mungkin Evan gengsi, namun jujur saja hal ini menyiksa Eithan. Gadis itu selalu merasa tidak dipedulikan dan merasa tak adil karena dia selalu mengalah dalam berbagai pertengkaran. Eithan bimbang dan ragu akan perasaan Evan. Entahlah, Eithan tak pernah mengharap banyak dari Evan. Eithan mencoba mengerti sifat Evan, namun hal itu hanya semakin membuat dirinya marah, kesal, dan sedih. Evan memang bukan pemuda yang romantis yang selalu memberi kejutan dan kata-kata manis. Hal itu tak masalah buat Eithan. Eithan hanya ingin Evan menghargai perasaannya. Hanya ingin mendengar kata "maaf" sekali saja. Hanya ingin melihat bahwa Evan pun memperjuangkan hubungan mereka. Hanya ingin mengetahui perasaan Evan tentang dirinya. Sesulit itukah?

Kamis, 24 Januari 2013

Sweetest Conversation

Hello bloggie, i just wanna share something. Well, it's such a sweet thing. Let me tell you!


Me : Bey, sebenernya aku udah berhasil bikin kamu jadi lebih nurut dari waktu dulu gak?

Him : Berhasil kok bey

Me : Kok bisa blg gitu?

Him : Iya soalnya skrg aku jauh lebih kalem mainnya (re: ngayap) dibanding dulu

Me : Aku ngerti bey skrg, aku gabisa ngekang kamu. kamu cowok, wajar kalo kelayapan. paling aku cuma batasi hari dan jamnya. dan meskipun gak adil, adalah hal yg wajar kalo kamu ngelarang aku ngayap. karna aku cewek, gabisa jaga diri kayak cowok. namanya cewek perlu diawasi dan dilindungi. kalo cowok bisa jaga diri sendiri, yg penting ngayapnya masih wajar wajar aja dan bukan untuk tujuan negati kayak misalnya minum minum dsbnya

Him : Maaf aku anti minum minum sama obat. Bener banget itu persepsi kamu bey

Me : Iya aku tau kok. Aku jg percaya sepenuhnya sama kamu tapi jangan lupa izin ya, jgn bikin aku khawatir

Him : Iya tenang aja. Tapi kalo malem minggu gausah izin ya kalo aku mangkal (re: kumpul sama temen) :p

Me : Iya kalo itu mah aku ngerti kok. Dan terkadang feeling aku selalu bener kan tentang temen kamu yg aku gasuka pasti jahat sama kamu

Him : Iya sih bey. Sekarang aku nurutin omongan kamu deh hehe

Me : Oke beybey

Him : Hehehe. tolong terima ya sisi buruk masa lalu aku. aku udah berubah kok hehe

Me : iya aku terima kok. seburuk apapun kamu, aku udah milih kamu. kamu berubah sejak kenal siapa?

Him : Kamu bey

Me : kok bisa?

Him : soalnya aku ngerasa ada yg beda waktu sama kamu


Hanya sepenggal percakapan yang sanggup membuatku tersenyum dan merasa beruntung bisa bersamanya :)