Prolog
Irene memejamkan matanya. Dibiarkannya bulir-bulir air mata menetes menuruni pipinya yang tirus. Di bibirnya tersungging sebuah senyuman. Entah itu senyuman dari dalam lubuk hatinya. Ataukah itu adalah senyuman yang dibuatnya semata-mata untuk menutupi segala keresahan hatinya? Sudahlah, tak ada yang perlu dirisaukan. Tiada yang perlu dipikirkan dan dicermati. Dia hanya ingin menikmati kesunyian itu. Dia hanya ingin mengkhayati suasana hening nan syahdu itu. Kini, hanya ada dirinya dan dia. Hanya ada dirinya dan yang terkasih.
Perasaan bersalah itu kembali merambati relung hati Irene. Digertakkannya gerahamnya, berusaha untuk melupakan segalanya. Berusaha untuk menikmati keadaan duniawi itu untuk sebentar. Satu jam saja. Atau satu menit. Atau barangkali sedetik. Ya, sedetik pun tak akan dia siakan untuk pemuda itu. Akan dia curahkan segalanya cintanya yang menggebu-gebu kepada pemuda itu. Hanya kepadanya. Hanya kepada yang tercinta. Tiada yang lain selainnya. Tiada pengecualian. Meski dusta harus menyayat segala janji, meski kecewa harus ditelan, meski hinaan harus diterima, meski derita terus menerpa.
Apakah salah cinta yang dirasa? Mana yang salah? Salah dimana? Ah, sudahlah. Tak perlulah dia pikirkan itu. Yang terpenting adalah cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Namun, akankah cinta itu abadi? Tanpa harus menyakiti hati yang lain? Irene tak tahu jawabnya. Dia hanya mengikuti arus keinginan hatinya. Dan hatinya telah berlabuh pada satu tempat. Sebuah tempat yang lebih tepat disebut jurang kenistaan. Namun, Irene menyebutnya sebagai surge dunia. Ah, manusia memang bodoh. Tiada setitik pun hal yang mereka lewatkan dari nikmatnya surga dunia. Irene mereguk rasa bahagia itu sebanyak-banyaknya. Tak ada yang akan tahu, ucapnya dalam hati berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sorot matanya menatap sayang kepada kedua mata yang tertutup itu. Kedua mata milik pemuda itu. Kepolosan terpancar dari wajah pemuda itu. Kepolosan yang dimiliki oleh remaja usia belasan. Kepolosan yang tak pantas dimiliki Irene. Tapi, harus bagaimana lagi? Cinta memang membutakan segalanya.
Irene mengelus helaian rambut pemuda itu dengan jemari halusnya. Pemuda itu mendengkur perlahan bagai dengkuran kucing kecil yang menantikan induknya. Irene tersenyum kecil. Sekali lagi, bahagia itu dirasakannya. Tubuhnya menikmati sentakan aliran listrik itu. Sudah lama dia tidak merasa berdebar-debar. Ya, sudah lama sekali. Irene sudah berniat untuk bangkit meninggalkan pemuda itu saat sebuah tangan meraih jemarinya.
“Kak, jangan tinggalkan aku. Temani aku…..” rintih pemuda itu dengan suaranya yang agak kacau dipengaruhi faktor menuju kedewasaan.
Kembali. Air mata Irene kembali terjatuh. Air mata bahagia itu. Irene terduduk kembali di kursi kayunya. Matanya kembali memandangi sosok yang terbaring di atas ranjang itu. Sosok yang terlihat lemah dan imut. Sosok yang memancarkan kepolosan. Namun, sorot mata itu tak akan pernah Irene lupakan. Sorot mata yang memancarkan sifat ambisius. Ah, memang itu kan yang membuatnya jatuh cinta pada pemuda itu? Ataukah karena hal lain? Tidak. Sudah pasti karena sorot mata itu. Jika tidak, mengapa matanya tak bisa beralih dari sorot mata malaikat itu? Ah, cinta. Tuluskah cintanya itu? Sudah pasti. Mungkin saja. Semoga saja.
Hanya sebuah nama yang terucap dari bibir Irene yang pucat, “Alfred…….”
Rabu, 08 Juni 2011
Today You Remember, Tomorrow You'll Forget It
Posted by Talk More at 00.25
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 comments:
Posting Komentar