Ini bukan cerita tentang seseorang yang penting di hidup gue tapi udah lama gue pengen cerita tentang dia. Bukan dia, lebih tepatnya kisah dia, gue, dan pacar gue. Sebut saja A. Dia adalah mantannya pacar gue. Cantik dan mungil, mungkin dua hal itu yang tepat untuk mendeskripsikan dia. Ramah? Ya, ramah. Dia jadian sama pacar gue awal 2011. Mereka putus september kemudian balikan lagi dan putus kembali november awal. Gak ada yang istimewa? Tunggu, gue belum sampai pada ke topik masalah. Ya mereka putus awal november dan seperti yang lo tau gue mulai deket sama pacar gue tanggal 6 november. Disaat dia lagi dalam masa move on dan disaat gue lagi bener-bener disakitin mantan gue. Gue jadian sama pacar gue tanggal 20 november. Saat itu gue ngerasa ada yang janggal. Dengan amat penasaran gue buka twitter mantannya pacar gue. Disana gue tau kalo cewek itu gak suka dengan kenyataan yang ada. Gue tau cewek itu masih sayang sama pacar gue. Gue merasa agak bersalah. Gue merasa kayak perebut. Sampai pada akhirnya gue tau kalo pacar gue putus sama mantannya karna kesalahan mantannya. Gue sempet takut gue Cuma dijadiin pelarian tapi kemudian pacar gue berhasil meyakinkan gue kalo dia bener-bener sayang sama dia, apalagi gue dan dia sempet saling tertarik waktu gue kelas 10 dan dia kelas 11. Mungkin menurut kalian cerita itu akan berakhir disini tapi salah. Gak sesimple itu, kawan. Gue lupa bulan apa tapi mantannya pacar gue ngefollow twitter gue. Dalam hati gue berpikir mungkin dia mau temenan sama gue. Gue pun begitu. Bagi gue gak ada salahnya temenan sama dia, apalagi kesan pertama yang gue dapetin dia itu anaknya ramah. Tapi……..mungkin dia masih gak rela. Beberapa kali gue liat tweetnya dia yang agak menyindir. Sampai pada akhirnya gue memutuskan untuk menyapa dia duluan. Waktu itu gue tulus pengen temenan sama dia. Amat tulus kok. Yah pada akhirnya kita temenan. Sahabatnya dia pun temenan sama gue. Dan waktu awal 2012, gue, pacar gue, temen gue dan pacarnya temen gue pernah ketemu dia dan temen-temennya di suatu mall di kawasan Depok. Waktu itu pacar gue sempet bete karna ketemu dia. Hal itu keliatan karna waktu ngeliat dia pacar gue langsung buru-buru pergi. Dia bilang dia udah males sama mantannya. Lanjut ya. Gue sama mantannya pacar gue temenan biasa. Kadang bbm-an. Tapi mulai hal yang gak gue suka terjadi. Satu persatu temen-temen sekolahnya dia nge-invite pin bbm gue. Mungkin menurut kalian ini lebay tapi jujur aja gue agak gak suka. Bukan berarti gue gak mau berteman. Gue tipe orang yang gak gampang percaya sama pendatang baru. Dan mulai dari sini gue ngerasa ada kejanggalan antara pertemanan gue dan cewek itu. Pernah suatu ketika sahabatnya cewek itu ngajakin ketemuan di suatu tempat. Gue gak meng-iyakan. Gila kali gue dateng sendiri. Dan yang paling parah terjadi tanggal 12 Maret 2012. Dimulai waktu pagi dia ngetweet “Selamat tanggal 12. Selamat angka 10” she thought that I didn’t know abt that but I did know that! Itu tanggal jadian dia sama pacar gue. Angka 10 berarti failed anniv mereka yang ke-10 bulan. Pacar gue liat tweet itu. Dia bilang ke gue supaya gausah mikirin itu tapi jujur gue kepikiran apalagi waktu itu gue lagi sakit. Darah rendah gue kambuh haha kesannya gue menyedihkan banget-__- Terus pas malem temen-temennya mantannya pacar gue pada ngucapin happy failed anniv ke dia. Jujur gue shock aja ngeliatnya. Pacar gue emosi karna ngeliat gue sedih. Dia gak mau gue yang lagi sakit jadi tambah banyak pikiran gara gara mantannya. Tapi gue gabisa. Gue agak cemburu aja karna temen-temennya mantannya pacar gue kesannya sengaja ngetweet gitu. Akhirnya pacar gue sms mantannya untuk gausah ngungkit masa lalu lagi. Salah satu sahabatnya cewek itu ngatain gue sampah tapi gue gak peduli. Yang penting mereka gak ganggu hubungan gue dan pacar gue lagi. Mereka delcont contact bbm gue dan gue bersyukur atas hal itu. Cuma cewek itu yang gak delcont gue. Gue block semua account twitter mereka atas permintaan pacar gue. Gue pikir sampai disana aja masalahnya tapi ternyata gak. Waktu itu gue ngetweet “males liat contact bbm kalo ada elonya” yang gue maksud adalah mantannya adek gue yang udah nyakitin adek gue. Dan ternyata cewek itu malah berkoar di bbm. Dia pikir itu tweetnya buat dia. Gue cek twitternya, disana dia ngetweet semua hal buruk mengenai gue. Berarti dia emang masih ngepoin twitter gue kan? Pacar gue tau itu. Dia maki-maki mantannya. Sahabatnya cewek itu mulai ngehujat gue. Sakit hati banget digituin. Pacar gue bilang mereka beraninya Cuma lewat dunia maya aja. Gue tau kok kalo hal itu bener. Akhirnya gue diemin mereka. Sejak itu gue lost contact sama cewek-cewek itu dan gue bersyukur sekarang hubungan gue sama pacar gue semakin baik tanpa kehadiran mereka. Apalagi gue udah kenal sama keluarganya pacar gue. Nyokapnya welcome sama gue dan pacar gue bilang baru kali ini ada pacar yang bisa akrab sama nyokapnya. Jujur makin kesini gue makin sayang sama pacar gue, gak Cuma sama dia tapi sama keluarganya juga. Mengenai cewek itu? Gue denger-denger sekarang dia udah punya pacar. Kalo emang bener, satu hal yang pengen gue sampein “selamat dan jangan ganggu hubungan gue dan pacar gue lagi”
Sabtu, 28 April 2012
Senin, 16 April 2012
Bullying (Chapter 1-another story)
Lagi-lagi dia termenung. Kepalanya dipenuhi bermacam-macam pikiran. Semuanya rumit. Apa pun yang dia pikirkan adalah rumit. Masalah keluarga, nilai, teman, dan cinta. Yang paling rumit ialah cintanya. Entah bagaimana kondisi cinta itu. Bukan, bukan karena ia diputuskan hubungan sepihak oleh kekasihnya. Bukan juga karena ia tidak mempunyai seseorang yang disukainya. Ia punya. Tentu saja. Hanya saja…….orang itu jauh dari jangkauannya.
Gadis itu menghela napas. Dia lelah akan semua ini. Berbagai cara telah dilakukannya. Dari cara yang sportif hingga cara yang licik. Mengapa harus cara yang licik? Jawabannya hanya satu, tidak ada yang bisa menyalahkan wanita yang sedang jatuh cinta. Segala cara pasti dilakukannya untuk mendapatkan pujaan hatinya. Tak peduli meski sang pujaan hati telah dimiliki oleh orang lain. Cinta itu buta, tak melihat apakah sang pujaan hati telah memiliki kekasih atau tidak, yang penting adalah berjuang sekuat tenaga meraih cintanya. Bukankah begitu?
Tidak, bukan begitu. Ia tak ingin seperti itu. Namun, pemuda yang disukainya kerap kali memberikan harapan padanya untuk kemudian menjatuhkannya begitu saja. Kejam memang. Namun itulah resiko jatuh cinta. Kau harus benar-benar siap untuk “terjatuh” berulang kali. Tak peduli seberapa dalamnya kau terjatuh, kau harus bangkit lagi demi mendapatkan sebuah balasan dari cintamu.
Dia, Karina Adisa, gadis berusia 16 tahun yang tengah terombang-ambing di dalam lautan kisah cintanya. Harus dihadapinya kebimbangan hatinya antara memilih untuk terus maju ataukah mundur. Bagaimana tidak, pujaan hatinya bukanlah pemuda yang sedang sendirian tanpa kekasih. Dia sudah memiliki kekasih. Meski Karina tegar menghadapinya, namun tetap saja perasaan tak rela kerap kali menghantuinya. Dia ingin cintanya terbalas. Bukan dengan yang lain namun dengan pujaan hatinya seorang. Bukannya bermaksud memaksakan kehendak, tapi siapa yang bisa menahan perih saat melihat orang yang dicintai bahagia bersama yang lain?
Karina ingin mengumpat dan memaki, menyesali dirinya yang tak menggunakan kesempatan emas yang dulu pernah datang. Yang dulu pernah menjadi peluangnya untuk mendapatkan hati pemuda itu. Sekarang apa mau dikata. Nasi sudah menjadi bubur. Teguklah seluruh kesakitan itu dan paksakan diri untuk bangkit. Karina tahu harapannya telah pupus, namun rasanya kesal sekali jika harus berhenti berjuang. Tidak, dia tidak menyesali pertemuan itu. Yang dia sesali ialah akhir dari pertemuan itu. Untuk apa bertemu bila akhirnya tak dapat menyatu? Untuk apa mencinta bila akhirnya tak jua dapatkan balasan?
Karina menatap layar ponselnya. Di layar itu tertera nomor ponsel pemuda yang sudah mengoyak hatinya, membekaskan luka yang tak akan hilang. Ingin rasanya ia menghapus nomor itu. Ingin rasaya ia membuang jauh-jauh ingatannya tentang pemuda itu, namun ia tak bisa. Kenangan setahun lalu tak bisa dihapusnya begitu saja. Saat beberapa temannya mengatakan bahwa pemuda itu mungkin menyukai Karina. Kenangan saat Karina dan pemuda itu saling melirik satu sama lain dan melempar senyum manis.
Karina merasakan pundaknya ditepuk dari belakang. Didapatinya teman sekelasnya saat di bangku kelas 10 tengah berkacak pinggang sambil menatap ke arahnya.
“Kau ini melamun terus! Memangnya gak ada kerjaan lain? Ayolah, jangan bilang lagi-lagi kau melamunkan pemuda yang telah menyakitimu itu?” tegur temannya.
Karina hanya tersenyum kecil. “Memangnya kenapa? Salah jika aku melamunkannya?”
“Bukannya salah, hanya saja dia tak pantas untuk kau pikirkan seperti itu. Dia itu……brengsek, kau tahu? Jujur saja, aku tak suka pada pemuda idamanmu itu.”
“Kau saja tidak mengenalnya, bagaimana kau bisa menilainya dengan sesuka hatimu?” Karina mencibir pada temannya.
Temannya memutar kedua bola matanya. “Demi Tuhan, Karina! Sampai berbusa mulutku mengomelimu! Apakah kau begitu buta karena cinta?”
Karina hanya cemberut. “Kau jangan memelototiku seperti itu. Aku tidak buta. Aku bahkan tahu dengan sangat jelas bahwa dia sudah memiliki kekasih. Aku hanya…….tidak bisa berhenti mencintainya. Itu saja.”
“Karin, apakah kau sengaja tidak menyadari bahwa di luar sana masih banyak pemuda yang mengagumimu?” Temannya memandang Karina dengan putus asa.
“Maksudmu aku harus melupakannya? Cinta dilupakan hanya karena tak berbalas, apakah itu yang disebut cinta sejati?” tanya Karina dengan nanar.
Kekhawatiran tampak tersirat di wajah temannya. “Terkadang kita harus belajar bahwa gak semuanya yang kita inginkan akan kita dapatkan.”
Karina membuang muka dengan gusar. “Aku tahu. Aku bahkan sangat mengetahui hal itu. Tapi aku tak sepertimu yang selalu mempunyai kisah cinta yang indah seperti di novel remaja atau di komik!” serunya.
“Karina! Apa-apaan kau. Kamu sendiri tahu, kisah cintaku tak semulus itu. Sudah lupakah kau ketika aku berkata jujur padamu bahwa aku sedang menyukai seseorang namun ternyata dia sudah dimiliki oleh gadis lain? Aku sama sepertimu. Jangan pernah lupa akan hal itu.” Temannya merangkul Karina, berusaha menenangkan gadis itu.
Wajah Karina memerah. Gadis itu berusaha menahan tangis dengan sekuat tenaga. Dia tahu dirinya sangat lemah dalam menghadapi masalah ini. Tapi mau bagaimana lagi. Bukankah wanita memang selalu rentan dengan airmata jika sudah menyangkut masalah hati? Tak hanya wanita saja kan, pria pun begitu. Baik pria mau pun wanita hanya bersikap sok tegar meski hati selalu menangis jika menyangkut masalah ini.
“Andai saja aku mengenal dia jauh sebelum dia dengan gadis itu……….” bisik Karina lirih.
“Ssssttt….jangan berkata seperti itu. Kau pasti akan mendapatkan yang jauh lebih baik dari dia. Pasti. Percayalah padaku.”
“Bagaimana jika aku tak percaya padamu? Karena sepertinya aku tetap tak bisa berhenti menyukainya. Aku terus mengaguminya.” Karina sudah benar-benar putus asa.
“Semua itu butuh proses. Mungkin tidak untuk sekarang. Tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya?”
Posted by Talk More at 05.10 0 comments
Sabtu, 14 April 2012
Bullying (Chapter 1)
Sabtu 6 November, menjadi hari yang tak akan pernah terlupakan bagi seorang gadis berseragam putih abu-abu itu. Sedari tadi ia memperhatikan pemuda berjaket putih itu. Sudah cukup setahun ia memendam perasaan pada pemuda itu. Senior yang lebih tua setahun darinya. Pemuda itu terlihat sedang berbicara dengan temannya. Gadis itu mengepalkan jemarinya. Ingin rasanya ia menyapa pemuda itu, namun perasaan minder selalu saja menghampiri dirinya.
Sudah cukup setahun ia menahan perasaan di dalam hatinya. Rasa senang saat melihat pemuda itu dan rasa kecewa saat dia harus menghadapi kenyataan bahwa pemuda itu telah dimiliki oleh gadis lain. Saat ini ia tak tahu apakah pemuda itu masih berpacaran dengan kekasihnya ataukah sudah usai. Rona kemerahan di kedua pipi gadis itu meyakinkan bahwa dirinya sangat bersemangat dan malu untuk bertemu dengan pemuda yang disukainya itu.
Gadis itu tersenyum kecil menatap ponselnya. Kedua bola matanya tak henti-hentinya menatap layar ponselnya yang menampakkan percakapannya dengan pemuda itu di suatu situs jejaring sosial. Di dalam hatinya gadis itu berharap agar percakapan tersebut menjadi kenyataan, tidak hanya di dunia maya saja. Gadis itu menunggu dengan sabar. Menunggu waktu yang tepat untuk sekedar mengatakan “hai” pada pemuda itu. Satu waktu, dua waktu berlalu hingga akhirnya pemuda itu benar-benar sendirian. Gadis itu memantapkan langkahnya menghampiri pemuda itu.
“Kak, kenapa Kakak di sini?” seru gadis itu. Suaranya terdengar agak bergetar menahan perasaan gugup.
Pemuda itu menoleh. “Kenapa? Apa pedulimu? Terserah aku lah, gak salah kan kalau aku ada di sekolahku sendiri?” Kedua mata pemuda itu berkilat jenaka. Sinar matanya memancarkan keramahan.
Gadis itu membalikkan badannya. Tak dapat menutupi rasa bahagianya, dia pergi meninggalkan pemuda itu. Senyum manis tersungging di bibirnya. Gadis itu mengibaskan rambutnya yang kecoklatan. Sebenarnya dia tak ingin mengakhiri percakapannya begitu saja. Dia ingin lebih banyak berbincang dengan pemuda itu. Pemuda yang telah berhasil membuatnya tertarik.
“Helena!” Terdengar nama gadis itu dipanggil. “Helena, ayo sini! Jangan melamun seperti itu, bantu-bantulah sedikit!”
Gadis itu menolah dan buru-buru menghampiri teman-temannya yang terlihat tengah sibuk membersihkan gudang sekolah dan……uh-oh, ini pasti mimpi. Pemuda itu ada di dalam gudang! Dia tengah ikut memindahkan alat-alat yang sudah tidak terpakai lagi. Dengan jantung berdebar keras, gadis itu melangkah ke dalam gudang. Diambilnya alat yang sudah tidak terpakai lagi.
“Hey, kau berubah ya.”
Hanya satu kalimat yang terucap dan itu sanggup untuk membuat Helena tersentak. Dipandanginya pemuda itu dengan tatapan heran. “Apa maksudmu?”
“Yah, dulu kau lebih lugu. Sekarang……..sudah jadi anak yang mengerti tentang mode ya?” ujar pemuda itu acuh tak acuh.
Gadis itu, Helena, tersenyum kecil. “Lugu? Kau salah. Sejak dulu aku memang begini.” Di dalam hati Helena membuncah perasaan bahagia. Pemuda itu masih ingat akan dirinya. Berarti dia masih ingat peristiwa itu?
Pemuda itu hanya tertawa. “Yah, terserah kau sajalah.” Lagi-lagi sinar matanya memancarkan keramahan. Dan lagi-lagi hal itu berhasil menghipnotis Helena.
Helena merasakan pipinya memanas. Ia bangkit dan meninggalkan pemuda itu. Sungguh, tak lama lagi mungkin dia akan menjadi gila. Tak dapat ditahannya perasaan bahagia itu. Helena tak ingin salah tingkah. Ia melangkah menghampiri teman-temannya. Sebisa mungkin ia mencoba melarutkan dirinya dalam sebuah percakapan, namun ia tak dapat mengelakkan pandangannya dari wajah pemuda itu. Senyuman di wajah pemuda itu mampu membuat jantung Helena kembali berdebar. Betapa ia mendamba pada senyuman itu. Dan betapa ia jatuh cinta pada wajah itu. Wajah yang sangat tak asing baginya. Wajah yang telah dikenalnya sejak lama.
“Hey, kalian lihat orang yang sedang mengurusi kardus-kardus itu?” tanya Helena pada teman-temannya.
“Tentu saja. Kenapa?”
“Mmm….dia adalah orang yang kusukai,” ujar Helena pelan. Wajahnya menunduk ke bawah tak sanggup memandang teman-temannya.
“Kau serius? Dan….hmm Lena, percayakah kau jika aku berkata bahwa dia memperhatikanmu sedari tadi?” sahut salah seorang temannya.
Helena menanggapinya dengan gelagapan. “Kau bercanda!” serunya. Matanya tak berani melirik pujaan hatinya yang tengah diperhatikan oleh teman-temannya.
Kerja bakti itu selesai. Saat dilihatnya pemuda itu sudah tidak ada lagi di dalam gudang, Helena berlari kecil menyusul pemuda itu. Dari balik dinding koridor, Helena memperhatikan pemuda itu tengah menghampiri motor merahnya. Ah, pasti dia berniat untuk pulang. Sayang sekali, Helena sangat tidak mengindahkan hal itu. Dia ingin agar pemuda itu berada lebih lama di sekolah. Tak bisakah?
Terdengar suara mesin motor dinyalakan. Helena mengamati pemuda itu dalam bayang semu. Ingin rasanya ia mengejar pemuda itu dan membatalkan niat pemuda itu untuk pulang ke rumah. Ingin rasanya ia berbincang lebih lama dengan pemuda itu. Ingin rasanya ia diantar pulang oleh pemuda itu. Tunggu, harapan yang terakhir sangatlah mustahil. Berbicara saja hanya sebentar, mana mungkin bisa diantar pulang begitu saja.
Pemuda itu mengenakan helmnya dan tak lama kemudian motor merah itu melesat meninggalkan sekolah. “Sampai jumpa besok, Kak,” bisik Helena lirih.
Posted by Talk More at 07.31 0 comments
Rabu, 11 April 2012
Bullying (Prolog)
Gadis itu tersungkur ke sudut ruangan. Peluh mengalir di dahinya. Wajahnya kusut. Rambutnya acak-acakan. Luka memar terlihat membekas di lengannya, namun dia tidak peduli. Yang harus dia pikirkan adalah bagaimana caranya melarikan diri dari ruangan itu. Dari kejahatan yang terus-menerus menimpanya. Dia. Lagi-lagi dia. Gadis yang teraniaya itu. Dia yang menjadi korban penindasan kakak kelasnya. Dia yang selalu diolok oleh kaum mayoritas. Cacian dan makian selalu dia terima dari anak-anak eksis itu.
Susah payah gadis itu menahan airmatanya yang ingin menyeruak keluar. Matanya terasa begitu panas, namun tak sepanas hatinya yang berusaha menahan perih yang dia alami. Entah sampai kapan dia harus mengalami hal seperti ini. Esok kah? Selamanya kah? Ataukah sampai ia melepas seragam putih abu-abunya? Haruskah ia menunggu satu atau dua tahun lagi sampai datangnya hari itu?
Apakah begitu salah menjadi kaum minoritas? Apakah salah menjadi seseorang yang tidak mengenal mewahnya kehidupan di kota dan uniknya gaya yang saat ini sedang trend? Sehina itukah ia di mata orang lain? Dia tidak mengenal fashion, kehidupan SMA yang glamour, ataupun kenakalan remaja. Haruskah semua itu ia ketahui? Agar ia tidak lagi dicap aneh oleh para penghuni sekolah. Dia bukannya tak mampu, dia hanya ingin menunjukkan bahwa dia bisa menjadi dirinya sendiri.
Gadis itu bangkit perlahan. Ditatapnya dengan tajam tepat ke manik mata seniornya. Ia tak ingin sampai seniornya tahu bahwa ia sedang dilanda ketakutan yang amat sangat saat itu. Bagaimana tidak. Ia hanya sendirian di ruangan itu, sementara seniornya berjumlah 5 orang. Bukan lawan yang cukup imbang. Gadis itu berdoa di dalam hatinya. Berdoa agar Tuhan menjadi iba kepadanya dan menolongnya dalam situasi darurat seperti itu.
Gadis itu menelan ludah saat salah seorang seniornya yang berwajah garang dengan badan yang aduhai melangkah maju menghampirinya. Gadis itu memaksa agar kepalanya tidak menunduk. Gadis itu berusaha kuat memberanikan dirinya sendiri. Sudah biasa. Dialah senior yang paling dibenci oleh gadis itu. Senior yang merebut kebahagiaannya dalam sekejap. Yang telah memudarkan keceriaan di masa sekolah menengah atasnya.
Seniornya kembali melangkah mendekati gadis itu. Gadis itu berusaha melemparkan pandangan sinis. Pandangan yang mengartikan “kamu tidak ada artinya bagiku.” Menatap pandangan gadis itu, seniornya melempar senyum dingin yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. Kejam. Senior itu kejam. Itu bukanlah senyum tulus. Itu pertanda bahwa tak lama lagi, senior itu akan mengulangi perbuatannya. Menganiayanya. Lagi. Berkali-kali. Tak ada habisnya.
Gadis itu berdeham pelan. Dengan segenap keberaniannya dia berteriak pada seniornya,
“Apa lagi yang akan kamu lakukan? Menyiksaku lagi? Aku tidak takut!”
Senior itu kembali tersenyum dingin. Kali ini ia telah sampai tepat 5 cm di depan gadis itu. Dengan matanya yang membelalak garang ia membentak, “kali ini kau akan kuhabisi, Darina Harvani!”
Posted by Talk More at 06.06 0 comments

