Gadis itu tersungkur ke sudut ruangan. Peluh mengalir di dahinya. Wajahnya kusut. Rambutnya acak-acakan. Luka memar terlihat membekas di lengannya, namun dia tidak peduli. Yang harus dia pikirkan adalah bagaimana caranya melarikan diri dari ruangan itu. Dari kejahatan yang terus-menerus menimpanya. Dia. Lagi-lagi dia. Gadis yang teraniaya itu. Dia yang menjadi korban penindasan kakak kelasnya. Dia yang selalu diolok oleh kaum mayoritas. Cacian dan makian selalu dia terima dari anak-anak eksis itu.
Susah payah gadis itu menahan airmatanya yang ingin menyeruak keluar. Matanya terasa begitu panas, namun tak sepanas hatinya yang berusaha menahan perih yang dia alami. Entah sampai kapan dia harus mengalami hal seperti ini. Esok kah? Selamanya kah? Ataukah sampai ia melepas seragam putih abu-abunya? Haruskah ia menunggu satu atau dua tahun lagi sampai datangnya hari itu?
Apakah begitu salah menjadi kaum minoritas? Apakah salah menjadi seseorang yang tidak mengenal mewahnya kehidupan di kota dan uniknya gaya yang saat ini sedang trend? Sehina itukah ia di mata orang lain? Dia tidak mengenal fashion, kehidupan SMA yang glamour, ataupun kenakalan remaja. Haruskah semua itu ia ketahui? Agar ia tidak lagi dicap aneh oleh para penghuni sekolah. Dia bukannya tak mampu, dia hanya ingin menunjukkan bahwa dia bisa menjadi dirinya sendiri.
Gadis itu bangkit perlahan. Ditatapnya dengan tajam tepat ke manik mata seniornya. Ia tak ingin sampai seniornya tahu bahwa ia sedang dilanda ketakutan yang amat sangat saat itu. Bagaimana tidak. Ia hanya sendirian di ruangan itu, sementara seniornya berjumlah 5 orang. Bukan lawan yang cukup imbang. Gadis itu berdoa di dalam hatinya. Berdoa agar Tuhan menjadi iba kepadanya dan menolongnya dalam situasi darurat seperti itu.
Gadis itu menelan ludah saat salah seorang seniornya yang berwajah garang dengan badan yang aduhai melangkah maju menghampirinya. Gadis itu memaksa agar kepalanya tidak menunduk. Gadis itu berusaha kuat memberanikan dirinya sendiri. Sudah biasa. Dialah senior yang paling dibenci oleh gadis itu. Senior yang merebut kebahagiaannya dalam sekejap. Yang telah memudarkan keceriaan di masa sekolah menengah atasnya.
Seniornya kembali melangkah mendekati gadis itu. Gadis itu berusaha melemparkan pandangan sinis. Pandangan yang mengartikan “kamu tidak ada artinya bagiku.” Menatap pandangan gadis itu, seniornya melempar senyum dingin yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. Kejam. Senior itu kejam. Itu bukanlah senyum tulus. Itu pertanda bahwa tak lama lagi, senior itu akan mengulangi perbuatannya. Menganiayanya. Lagi. Berkali-kali. Tak ada habisnya.
Gadis itu berdeham pelan. Dengan segenap keberaniannya dia berteriak pada seniornya,
“Apa lagi yang akan kamu lakukan? Menyiksaku lagi? Aku tidak takut!”
Senior itu kembali tersenyum dingin. Kali ini ia telah sampai tepat 5 cm di depan gadis itu. Dengan matanya yang membelalak garang ia membentak, “kali ini kau akan kuhabisi, Darina Harvani!”
Rabu, 11 April 2012
Bullying (Prolog)
Posted by Talk More at 06.06
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 comments:
Posting Komentar