Lagi-lagi dia termenung. Kepalanya dipenuhi bermacam-macam pikiran. Semuanya rumit. Apa pun yang dia pikirkan adalah rumit. Masalah keluarga, nilai, teman, dan cinta. Yang paling rumit ialah cintanya. Entah bagaimana kondisi cinta itu. Bukan, bukan karena ia diputuskan hubungan sepihak oleh kekasihnya. Bukan juga karena ia tidak mempunyai seseorang yang disukainya. Ia punya. Tentu saja. Hanya saja…….orang itu jauh dari jangkauannya.
Gadis itu menghela napas. Dia lelah akan semua ini. Berbagai cara telah dilakukannya. Dari cara yang sportif hingga cara yang licik. Mengapa harus cara yang licik? Jawabannya hanya satu, tidak ada yang bisa menyalahkan wanita yang sedang jatuh cinta. Segala cara pasti dilakukannya untuk mendapatkan pujaan hatinya. Tak peduli meski sang pujaan hati telah dimiliki oleh orang lain. Cinta itu buta, tak melihat apakah sang pujaan hati telah memiliki kekasih atau tidak, yang penting adalah berjuang sekuat tenaga meraih cintanya. Bukankah begitu?
Tidak, bukan begitu. Ia tak ingin seperti itu. Namun, pemuda yang disukainya kerap kali memberikan harapan padanya untuk kemudian menjatuhkannya begitu saja. Kejam memang. Namun itulah resiko jatuh cinta. Kau harus benar-benar siap untuk “terjatuh” berulang kali. Tak peduli seberapa dalamnya kau terjatuh, kau harus bangkit lagi demi mendapatkan sebuah balasan dari cintamu.
Dia, Karina Adisa, gadis berusia 16 tahun yang tengah terombang-ambing di dalam lautan kisah cintanya. Harus dihadapinya kebimbangan hatinya antara memilih untuk terus maju ataukah mundur. Bagaimana tidak, pujaan hatinya bukanlah pemuda yang sedang sendirian tanpa kekasih. Dia sudah memiliki kekasih. Meski Karina tegar menghadapinya, namun tetap saja perasaan tak rela kerap kali menghantuinya. Dia ingin cintanya terbalas. Bukan dengan yang lain namun dengan pujaan hatinya seorang. Bukannya bermaksud memaksakan kehendak, tapi siapa yang bisa menahan perih saat melihat orang yang dicintai bahagia bersama yang lain?
Karina ingin mengumpat dan memaki, menyesali dirinya yang tak menggunakan kesempatan emas yang dulu pernah datang. Yang dulu pernah menjadi peluangnya untuk mendapatkan hati pemuda itu. Sekarang apa mau dikata. Nasi sudah menjadi bubur. Teguklah seluruh kesakitan itu dan paksakan diri untuk bangkit. Karina tahu harapannya telah pupus, namun rasanya kesal sekali jika harus berhenti berjuang. Tidak, dia tidak menyesali pertemuan itu. Yang dia sesali ialah akhir dari pertemuan itu. Untuk apa bertemu bila akhirnya tak dapat menyatu? Untuk apa mencinta bila akhirnya tak jua dapatkan balasan?
Karina menatap layar ponselnya. Di layar itu tertera nomor ponsel pemuda yang sudah mengoyak hatinya, membekaskan luka yang tak akan hilang. Ingin rasanya ia menghapus nomor itu. Ingin rasaya ia membuang jauh-jauh ingatannya tentang pemuda itu, namun ia tak bisa. Kenangan setahun lalu tak bisa dihapusnya begitu saja. Saat beberapa temannya mengatakan bahwa pemuda itu mungkin menyukai Karina. Kenangan saat Karina dan pemuda itu saling melirik satu sama lain dan melempar senyum manis.
Karina merasakan pundaknya ditepuk dari belakang. Didapatinya teman sekelasnya saat di bangku kelas 10 tengah berkacak pinggang sambil menatap ke arahnya.
“Kau ini melamun terus! Memangnya gak ada kerjaan lain? Ayolah, jangan bilang lagi-lagi kau melamunkan pemuda yang telah menyakitimu itu?” tegur temannya.
Karina hanya tersenyum kecil. “Memangnya kenapa? Salah jika aku melamunkannya?”
“Bukannya salah, hanya saja dia tak pantas untuk kau pikirkan seperti itu. Dia itu……brengsek, kau tahu? Jujur saja, aku tak suka pada pemuda idamanmu itu.”
“Kau saja tidak mengenalnya, bagaimana kau bisa menilainya dengan sesuka hatimu?” Karina mencibir pada temannya.
Temannya memutar kedua bola matanya. “Demi Tuhan, Karina! Sampai berbusa mulutku mengomelimu! Apakah kau begitu buta karena cinta?”
Karina hanya cemberut. “Kau jangan memelototiku seperti itu. Aku tidak buta. Aku bahkan tahu dengan sangat jelas bahwa dia sudah memiliki kekasih. Aku hanya…….tidak bisa berhenti mencintainya. Itu saja.”
“Karin, apakah kau sengaja tidak menyadari bahwa di luar sana masih banyak pemuda yang mengagumimu?” Temannya memandang Karina dengan putus asa.
“Maksudmu aku harus melupakannya? Cinta dilupakan hanya karena tak berbalas, apakah itu yang disebut cinta sejati?” tanya Karina dengan nanar.
Kekhawatiran tampak tersirat di wajah temannya. “Terkadang kita harus belajar bahwa gak semuanya yang kita inginkan akan kita dapatkan.”
Karina membuang muka dengan gusar. “Aku tahu. Aku bahkan sangat mengetahui hal itu. Tapi aku tak sepertimu yang selalu mempunyai kisah cinta yang indah seperti di novel remaja atau di komik!” serunya.
“Karina! Apa-apaan kau. Kamu sendiri tahu, kisah cintaku tak semulus itu. Sudah lupakah kau ketika aku berkata jujur padamu bahwa aku sedang menyukai seseorang namun ternyata dia sudah dimiliki oleh gadis lain? Aku sama sepertimu. Jangan pernah lupa akan hal itu.” Temannya merangkul Karina, berusaha menenangkan gadis itu.
Wajah Karina memerah. Gadis itu berusaha menahan tangis dengan sekuat tenaga. Dia tahu dirinya sangat lemah dalam menghadapi masalah ini. Tapi mau bagaimana lagi. Bukankah wanita memang selalu rentan dengan airmata jika sudah menyangkut masalah hati? Tak hanya wanita saja kan, pria pun begitu. Baik pria mau pun wanita hanya bersikap sok tegar meski hati selalu menangis jika menyangkut masalah ini.
“Andai saja aku mengenal dia jauh sebelum dia dengan gadis itu……….” bisik Karina lirih.
“Ssssttt….jangan berkata seperti itu. Kau pasti akan mendapatkan yang jauh lebih baik dari dia. Pasti. Percayalah padaku.”
“Bagaimana jika aku tak percaya padamu? Karena sepertinya aku tetap tak bisa berhenti menyukainya. Aku terus mengaguminya.” Karina sudah benar-benar putus asa.
“Semua itu butuh proses. Mungkin tidak untuk sekarang. Tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya?”
Senin, 16 April 2012
Bullying (Chapter 1-another story)
Posted by Talk More at 05.10
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 comments:
Posting Komentar