Evan memacu motornya. Eithan memeluk pinggang kekasihnya itu. Eithan baru saja pulang dari rumah Evan. Eithan mengunjungi rumah Evan untuk sekedar berbicara dengan Ibunda Evan yang memang sudah dekat dengannya. Setelah sampai di tempat tujuan, Evan menghentikan laju motornya. Eithan turun dari motor Evan dan tersenyum pada Evan.
"Terima kasih," ujarnya sambil tersenyum manis.
Evan menatap Eithan. Tatapannya dipenuhi perasaan sayang. Dipeluknya Eithan dan diciumnya kening kekasihnya itu. "Jangan tinggalkan aku lagi," ujarnya parau seperti ingin menangis.
"Kau juga. Jangan mendiamkan aku seperti itu lagi," sahut Eithan.
"Maafkan aku, Eith. Aku mencintaimu. Kau itu gadis paling sempurna untukku. Kau tidak munafik, dan kau tidak pernah malu untuk menunjukkan kekuranganmu," kata Evan.
"Aku hanya ingin kau menerimaku apa adanya......" balas Eithan pelan.
"Ya, aku tahu. Aku bahagia bisa bersamamu. Kau......." Evan tak meneruskan kalimatnya.
"Aku apa?" tanya Eithan.
"Kau buruk rupa," canda Evan sambil mengacak-acak rambut Eithan.
"Oh begitu," ujar Eithan datar. "Yah, aku akui aku memang buruk rupa. Aku tak secantik mereka, mantan pacarmu."
Evan tersenyum. "Hei, aku hanya bercanda. Kau jauh lebih cantik dari mereka."
"Benarkah?" Eithan menatap kedua bola mata Evan berusaha mencari tahu kebohongan Evan, namun kedua bola mata itu membuktikan bahwa Evan berkata jujur.
"Kau tahu, aku benci berkata gombal dan aku benci berbohong. Aku juga benci merayu. Jadi yang kukatakan adalah jujur. Kau cantik, hatimu juga tak kalah cantik. Itulah sebabnya aku selalu mengatakan bahwa gadis sepertimu sangatlah jarang. Aku senang karena kau selalu bisa mengerti tentangku," terang Evan.
Kedua pipi Eithan bersemu merah. Ia membenamkan wajahnya di dada Evan. "Kau terlalu berlebihan," gumamnya.
"Aku tidak berlebihan. Aku hanya berkata jujur.Tetaplah seperti ini, jangan berubah. Tetaplah menjadi milikku. Sekarang dan selamanya," pinta Evan.
"Kau ingin aku menjadi pendamping hidupmu?" tanya Eithan.
"Ya. Itulah alasan mengapa aku selalu menjagamu dan mengapa aku tak sanggup untuk mendiamkanmu lebih dari sehari. Aku tak bisa tanpamu. Aku serius menjalani hubungan ini denganmu. Hanya denganmu. Aku sudah yakin bahwa kau adalah jodohku sejak pertemuan pertama kita," ujar Evan dengan jujur.
"Benarkah?" Eithan masih bimbang.
"Jika aku tak serius denganmu, aku tak mungkin terus mengejarmu. Dan hubungan kita tak mungkin selanggeng ini," kata Evan.
"Aku pun begitu. Aku menyayangimu. Kemarin, hari ini, dan selamanya," balas Eithan lembut.
"Truly loving someone or something can and should require us to sacrifice some of the things that we want, so that we may place in the best positions the things and the people that we love," - Ritu Ghatourey.


0 comments:
Posting Komentar