“Aku perlu bersyukur pada Tuhan,” ucap Eithan dalam hati.
Malam ini Evan menghubungi Eitan dari ponselnya. Evan tengah berada di kampung
halaman Eithan. Pemuda itu mengikuti touring bersama club motornya. Dikarenakan
rasa rindu yang menyelimuti hati, Evan menelepon Eithan. Malam ini Evan tidak
membuat Eithan terjatuh lagi. Malam ini Evan berhasil meyakinkan Eithan bahwa
pemuda itu benar-benar menyayangi Eithan.
“Aku menyayangimu,” ungkap Evan pada Eithan
.
“Bagaimana dengan mantan kekasihmu? Tentu kau pernah
menyayanginya bukan? Bagaimana dengan Selina?” tanya Eithan. Selina adalah
mantan kekasih Evan yang terakhir. Gadis itu pernah berseteru dengan Eithan karena
dia tak dapat menerima kenyataan bahwa Evan sangat menyayangi Eithan.
“Oh, kurasa kau perlu tahu akan masa laluku dengan Selina.
Jujur saja, aku terpaksa menjadi kekasihnya. Aku tak enak pada temanku yang
saat itu mendukungku untuk menjadi kekasihnya. Aku sama sekali tak pernah
menyayanginya. Kurasa aku agak muak dengannya. Dia merasa dirinya begitu cantik
padahal kenyataannya berkebalikan,” ujar Evan.
“Dan apakah saat kau dekat dengannya kau tahu bahwa dia suka
padamu?” tanya Eithan.
“Ya, aku tahu. Tapi aku tak peduli. Bukankah sudah kubilang
bahwa hanya dirimu yang ada dalam memoriku sejak bulan Juli tahun 2010? Aku
selalu memperhatikanmu, Eithan. Meski aku tak berani mengungkapkannya karena
merasa tak pantas untukmu,” terang Evan.
“Jadi, kau tidak terpaksa menjadi kekasihku?”
“Tentu saja tidak. Bahkan seandainya jika kau suruh aku
untuk melupakanmu, aku tak akan bisa. Kau bagai narkotika untukku. Aku tak bisa
jika tanpa kamu.”
“Tapi kau selalu saja membuatku sedih.”
“Aku tahu. Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu.
Maaf jika aku kekanak-kanakan,” ungkap Evan.
“Maafkan aku juga jika aku egois dan terlalu mengekangmu,”
balas Eithan.
“Kau tahu, Eith? Kau itu cantik. Tidak hanya dari parasmu,
namun dari hatimu. Kau tetap ada disisiku seraya menggenggam jemariku di saat
aku telah menjadi yang terburuk. Mereka tidak akan mungkin melakukan apa yang
kau lakukan. Kebaikan dan kecantikanmu mengalahkan mereka yang pernah dekat
denganku. Itulah alasan mengapa aku selalu terpaku padamu. Dan aku tidak
bohong, kau tahu itu,” kata Evan.
Eithan tahu benar bahwa Evan berkata jujur. Pemuda itu tidak
pernah membohonginya. Selalu saja jika ada yang membuat Eithan ragu tentang
Evan, gadis itu pasti mencari tahu kebenarannya dan pada akhirnya dia tahu
bahwa Evan tidak pernah membohonginya. Eithan mengerti, dirinyalah yang dipilih
oleh Evan sejak awal. Dirinyalah yang selalu ada dalam pikiran dan relung hati
Evan. Sungguh Evan sangat menyayanginya. Malam ini, untuk pertama kalinya dalam
sejarah kisah cintanya bersama Evan, Eithan merasa begitu bahagia.
“Terima kasih, Tuhan,” ungkap Eithan dalam hati.


0 comments:
Posting Komentar