Ini bukan cerita tentangku. Juga bukan tentangmu. Ini cerita tentang kita. Ini cerita tentang sepasang anak remaja yang memaksakan jalannya suatu kisah cinta yang tak mulus, penuh liku. Kau dengan egomu, aku dengan sikap acuhku. Kau yang egois, aku yang tak ingin menggubrismu. Awal hubungan ini tak dapat kupungkiri lagi memang indah. Kenangan manis itu bagai gulali yang banyak disenangi oleh bocah-bocah cilik. Engkau dahulu pernah menyayangiku begitu tulus tanpa cela, aku dahulu begitu menyanjungmu dan tak ingin lepas darimu. Namun kini semua berubah. Entah dimana letak kesalahan itu. Salah dimana? Aku pun tak mampu menjawabnya. Umpatan demi umpatan selalu terucap dari bibirmu, makian demi makian sering terucap dari bibirku. Kita yang dahulu tak sama dengan kita yang sekarang. Banyak sekali benci dalam relung hati kita saat ini. Perselisihan demi perselisihan mulai membuat hubungan ini kian berliku. Kerap kali kau sakiti aku dengan perubahan sikapmu yang begitu instan. Kerap kali aku merasa muak padamu yang begitu tega padaku. Tak sadarkah kau begitu berbedanya engkau sekarang? Seringkali kau lampiaskan marahmu padaku. Kau bahkan sudah tak peduli lagi padaku. Kau anggap aku apa? Budakmu? Pesuruhmu? Sesuatu yang tak lagi berharga bagai perhiasan imitasi? Kau pergi bersama dunia barumu. Kau tinggalkan aku dalam kelamnya suasana hati yang telah dikhianati. Sudah lupakah kau pada janji kita? Ah, tak perlu lah aku mengharap jawab. Sudah dipastikan kau bahkan lupa tanggal berapa kau mengucap cinta padaku untuk pertama kalinya. Kini, aku meragukan perasaanmu. Malam ini, semua terjadi pada puncaknya. Puncak kekesalanmu dan puncak kelelahanku. Ah, sudahlah.
"Kemana perginya binar-binar kebahagiaa yang dulu selalu ada di antara kita?"


0 comments:
Posting Komentar